Selasa, 05 Juni 2012

PUISI UNTUK SAHABAT


Sulit untukku untuk mengatakan sesuatu
Aku ingin sekali mengatakannya suatu hari
Tapi aku ragu...
Disini tak ada orang
tapi kau dan aku memecah rasa kesepian
membuatku merasa nyaman
melebihi  dari sekedar  teman...
aku ingin sekali menghadiahi engkau
dengan sejajar lima kalimatku
Terima Kasih Sudah Setia Menemaniku
Engkau menjadi mataku ketika aku tak bisa melihat
Engkau menjadi matahariku ketika aku terjebak dalam kegelapan
Engkau menjadi sayapku ketika aku tak bisa terbang
Oh sahabatku...
Kau seperti bayanganku
Menemaniku  dimanapun aku berada
Engkau lah keluargaku

SAHABAT

sahabatku………
seberat apapun masalahmu
sekelam apapun beban hidupmu
jangan pernah berlari darinya
ataupun bersembunyi
agar kau tak akan bertemu dengannya
atau agar kau bisa menghindar darinya
karena sahabat…..
seberapa jauhpun kau berlari
dan sedalam apapun kau bersembunyi
dia pasti akan menemuimu
dalam sebuah episode kehidupanmu
sahabatku……
alangkah indahnya bila kau temui ia dengan dada yang lapang
persilahkan ia masuk dalam bersihnya rumah hati
dan mengkilapnya lantai nuranimu
hadapi ia dengan senyum seterang mentari pagi
ajak ia untuk menikmati hangatnya teh kesabaran
ditambah sedikit penganan keteguhan
sahabat…….
dengan begitu
sepulangnya ia dari rumahmu
akan kau dapati
dirimu menjadi sosok yang tegar
dalam semua keadaan
dan kau pun akan mampu dan lebih berani
untuk melewati lagi deraan kehidupan
dan yakinlah sahabat……..
kaupun akan semakin bisa bertahan
kala badai cobaan itu menghantam

SALAH NURUNIN RESLETTING


Auryn seorang wanita  dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di halte bus dekat mulut gang rumahnya. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga bodinya yang seksi bak gitar spanyol itu semakin kelihatan lekuk likunya.

Bus kota datang, Auryn berusaha naik lewat pintu depan, tapi dia merasa kok kakinya tidak sampai di tangga bus. Menyadari bahwa roknya ketetatan, tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar.

Tapi, ouucchh, ternyata masih juga belum bisa naik. Ia pun mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya tp tetap saja masih belum bisa naik juga ke tangga bus. Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.

Auryn melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya, ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Auryn.

“Hei, kurang ajar lo. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang!”

Si pemuda menjawab kalem, “Yang nggak sopan itu situ, Mbak. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue.”